Monday, December 14, 2009

IN THE MIDNITE

hoahm............
keasyikan kerjain laporan nih, truz tumben2an koneksi indos*t cepet benerrrrrrrrrrrr, jadi asik surfing2nya...
ga kerasa uda lewat tengah malem, badan udah pegel2................
bobo dulu ahhhhhhhh...
tataw aLL

kultur jaringan anggur (Vitis vinifera)

II. KULTUR JARINGAN ANGGUR (Vitis vinivera L.)

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan tehnik budidaya tanaman menggunakan sel, jaringan dan organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali serta dalam keadaan aseptic. Dalam kultur jaringan terdapat dua konsep dasar yaitu bahan tanam yang bersifat totipotensi dan budidaya tanaman bebas mikroorganisme. Kedua konsep dasar tersebut harus terpenuhi untuk menunjang keberhasilan kultur jaringan.
Pada kultur jaringan anggur (Vitis vinivera L.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman anggur. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Penggunaan ruas batang muda anggur bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik, artinya organ tersebut masih aktif membelah. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus, yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.
Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa anggur mempunyai senyawa fenol, yaitu flavonoid yang berperan sebagai antioksidan dan menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi oksidasi nitrit yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah dan juga menghambat pertumbuhan sel kanker. Sehingga diperlukan metode yang tepat untuk memperoleh senyawa tersebut. Salah satu alternative yang tepat dan lebih efisien adalah dengan kultur jaringan.
Kultur jaringan anggur dapat ditujukan sebagai suatu tehnik budidaya tanaman yang dapat menghasilkan produk metabolit sekunder dari tanaman. Sehingga dapat meminimalkan biaya produksi untuk mengolah buah anggur untuk diperoleh metabolit sekundernya. Selain itu, dalam segi budidaya tidak memerlukan lahan yang luas dalam usaha memperbanyak tanaman.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum acara II Kultur Jaringan Anggur (Vitis vinifera L) ini bertujuan:
a. Mengetahui tehnik kultur jaringan anggur
b. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan anggur

3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara II Kultur Jaringan Anggur (Vitis vinifera L.) ini dilaksanakan pada hari Senin, 19 Oktober 2009 di Laboratorium Teknik Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Kultur Pucuk (Shoot culture) adalah teknik mikropropagasi yang dilakukan dengan cara mengkulturkan eksplan yang mengandung meristem pucuk (apikal dan lateral) dengan tujuan perangsangan dan perbanyakan tunas-tunas aksilar. Tunas-tunas aksilar tersebut selanjutnya diperbanyak melalui prosedur yang sama seperti eksplan awalnya dan selanjutnya diakarkan dan ditumbuhkan dalam kondisi in vivo (Anonim, 2008).
Pertumbuhan pucuk, inisiasi dan perbanyakan tunas aksilar yang dihasilkan umumnya dirangsang dengan cara menambahkan hormon pertumbuhan (umumnya sitokinin) ke dalam media pertumbuhannya. Perlakuan ini dapat merangsang pertumbuhan tunas samping dan mematahkan dominasi apikal dari pucuk yang dikulturkan. Selain itu, dominasi apikal juga dapat dihilangkan dengan perlakuan-perlakuan lain misalnya pemangkasan daun-daun yang terdapat pada buku-buku tunas atau meletakkan eskpan dalam posisi horizontal (Dodds, 1993).
Penambahan sitokinin menginduksi pembentukan tunas secara nyata. Peningkatan jumlah tunas akibat penambahan BAP ternyata berpengaruh buruk pada penampilan tunas yang terbentuk, yaitu roset dengan ruas pendek-pendek. Ada kemungkinan ini adalah pengaruh buruk dari BAP konsentrasi tinggi (Hoesen, 1996).
Auksin sangat diperlukan dalam pertumbuhan organogenesis termasuk dalam pembentukan akar. Kombinasi auksin dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan inisiasi dan induksi akar pada kultur
(Gaspar et al., 1996).
Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa (Winarsih, 1998)
C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen
b. Petridish dan botol-botol Kultur
c. Peralatan diseksi, yaitu : pisau pemes, pinset besar dan kecil
2. Bahan
a. Eksplan : Anggur d. Aquadest steril
b. Media kultur e. Spirtus
c. Alcohol 96% f. Chlorox (Sunclin)
3. Cara Kerja
a. Persiapan eksplan
b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC)
 Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama ± 12 jam, dilanjutkan dengan klorox 5,25% (sunclin 100%) selama 3 menit
 Membilas eksplan dengan aquadest steril
c. Penanaman eksplan
 Membuka plastic botol media kultur
 Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api
 Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi
d. Pemeliharaan
 Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur
 Lingkungan di luar botol harus di jaga suhu, kelembaban dan cahayanya
 Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi
e. Pengamatan selama 5 minggu, variabel yang diamati adalah :
 Saat muncul akar, tunas, daun dan kalus (HST), diamati setiap hari
 Jumlah akar, tunas dan daun diamati 1 minggu sekali
 Deskripsi kalus (stuktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan
 Prosentase keberhasilan dilakukan pada akhir pengamatan

D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Pertumbuhan Tunas, Daun, dan Akar pada Eksplan Anggur (Vitis vinifera L)
Macam eksplan Ulangan Saat muncul tunas
(MST) Saat muncul daun
(MST) Saat muncul akar
(MST) Jumlah tunas Jumlah daun Jumlah akar
Anggur
(Vitis vinifera L) 1 - - - - - -
2 - - - - - -
3 3 1 3 2 1 3
4 - - - - - -
5 - 1 3 2 1 2
6 - - - - - -
7 3 3 3 1 1 4
8 - - - - - -
9 - - - - - -
10 - - - - - -
11 - - - - - -
12 - - - - - -
13 - - - - - -
14 - - - - - -
15 - - - - - -
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Berdasarkan table 2.1 dapat diketahui bahwa pada eksplan anggur sudah terdapat beberapa ulangan yang menunjukkan pertumbuhan tunas, daun, dan akar walaupun dalam jumlah yang sedikit. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan jumlah perbandingan ZPT yang digunakan, faktor genetik dari tanaman itu sendiri maupun mati akibat terkontaminasi oleh bakteri maupun jamur yang berasal dari faktor luar (eksplan, alat, serta media yang tidak steril, dan lain-lain).
Dalam aktivitas kultur jaringan, auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin, membentuk klorofil dalam kalus, mendorong morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas, mendorong proses embryogenesis, serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Moore, 1990).
Berdasarkan pengamatan terdapat beberapa ulangan yang membentuk akar, yaitu pada ulangan 3, 5, dan 7. Akar-akar tersebut terbentuk setelah 3minggu setelah tanam dengan jumlah masing-masing 3, 2 da 4 akar. ZPT seperti Indolebutiric Acid (IBA), Naphaleneasetic Acid (NAA), memiliki potensi didalam mengadakan perangsangan pembentukan akar baru. Dari beberapa pustaka telah diketahui bahwa IBA dan NAA adalah ZPT yang termasuk dalam grup Auxin dengan fungsiologis antara lain ekskresi ion H+ dari sitoplasma ke dinding sel (pembentukan sel), mengaktifkan RNA untuk sintesis protein Diribosan (pembesaran sel), merangsang pembentukan kalus yang selanjutnya menjadi akar baru.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, didapati bahwa pada beberapa eksplan didapati beberapa tunas yang terbentuk. Kemunculan tunas terdapat pada ulangan 3 dan 7, saat 3 minggu setelah tanam dengan jumlah tunas yang muncul masing-masing 2, 2 dan 1 tunas. Banyaknya tunas yang tidak muncul mungkin selain disebabkan eksplan yang mati akibat terkontaminasi oleh jamur dan bakteri, adalah kurang banyaknya waktu pengamatan sehingga pada pengamatan terakhir hanya sedikit didapati eksplan yang menghasilkan tunas.
Fungsi sitokinin (BAP) terhadap tanaman antara lain adalah memacu terbentuknya organogenesis dan morfogenesis, memacu terjadinya pembelahan sel dan kombinasi antara auxin dan sitokinin akan memacu pertumbuhan kalus.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, didapati bahwa pada eksplan ulangan ke 3, 5, dan 7 sudah terbentuk daun pada saat masing-masing 1 minggu setelah tanam dan 3 minggu setelah tanam. Terlihat bahwa kemunculan daun di sini disertai kemunculan akar. Hal ini karena energi yang digunakan untuk pertumbuhan daun dipengaruhi oleh penyerapan unsur nhara yang diserap oleh akar. Hal lain yang mungkin menyebabkan daun tidak tumbuh yaitu eksplan mati akibat terkontaminasi oleh jamur dan bakteri, serta kurang banyaknya waktu pengamatan.
Tabel 2.2 Persentase Keberhasilan Kultur Anggur
Macam Eksplan Jumlah Eksplan Persentase Keberhasilan
(%)
Hidup Mati

Anggur
(Vitis vinifera L)
3
12

Sumber : Lapran Sementara
Berdasarkan tabel 2.2 dapat diketahui bahwa keberhasilan kultur pucuk anggur adalah 20%. Artinya, 3 diantara 15 eksplan yang ditanam mati. Kematian tersebut terjadi karena beberapa sebab, diantaranya 6 eksplan mati karena terkontaminasi jamur, 3 eksplan mati karena terkontaminasi bakteri, dan 3 eksplan mati akibat browning. Browning terjadi oleh karena sebab enzimatik. Enzimatik ini berperan dalam proses polifenol oksidasi, suatu enzim komplek. Enzim komplek ini diantaranya adalah fenol hidroksilase, krosolase, dan katekolase.


E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Pertumbuhan eksplan anggur dipengaruhi oleh ketersediaan zat pengatur tumbuh seperti IBA.
b. Pada pengamatan terlihat bahwa eksplan yang telah membentuk akar juga terbentuk daun, hal tersebut dapat terjadi karena penyerapan unsur hara yang baik oleh akar dapat membantu pembentukan daun.
c. Persentase keberhasilan kultur anggur adalah 20%.
d. Kegagalan dalam kultur pucuk anggur ini dapat terjadi karena media kurang steril, terjadi kontaminasi oleh jamur dan bakteri, serta adanya peristiwa browning.
2. Saran
a. Pengamatan hendaknya dilakukan secara intensif setiap hari untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.
b. Sterilisasi alat, bahan dan kebersihan laboratorium perlu diperhatikan untuk mencegah resiko kontaminasi.
c. Pemeliharaan eksplan yang ditanam hendaknya lebih intensif untuk mencegah resiko kontaminasi.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Metode Perbanyakan Mikro. e-learning.unram.ac.id. Diakses pada tanggal 23 November 2009.
Dodds, B., 1993. Plant tissue culture for horticulture. Queensland University of Technology Printing Unit Garden's Point Campus. Queensland.
Gaspar, T., C. Kevers, C. Penel, H. Greppin, D.M. Reid, and T.A. Thorpe. 1996. Plant Hormones and Plant Growth Regulators in Plant Tissue Culture. In Vitro Cell Dev. Biol. Plant 32: 272-289.
Hoesen, D.S.H. 1996. Pembentukan Tunas Kencur Secara In-Vitro. Warta Tumbuhan Obat Indonesia Vol.3 No.2 : 21 – 27. Kel. Kerja Nas. Tumb. Obat Indonesia. Jakarta.
Marlina, N. 2004. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rossa spp.). J. Teknik Pertanian. 9 (1): 4-6.
Moore, T.C. 1989. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. Springer-Verlag. Berlin.
Winarsih, S. 1998. Induksi Perakaran pada Tanaman Mawar (Vitis vinifera L.) Secara In-vitro. J. Hortikultura. 8(3): 6-11Wuryaningsih, S. 1995. Kultur Teknik Anggur. BALITHI. Jakarta

praktikum TBT Pangan

I. PENGARUH INOKULASI DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI
[Glysine max L (Meril)]
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kedelai (Glysine max) merupakan tanaman kacang-kacangan atau legume yang menduduki tempat sebagai komoditas utama di Indonesia. Kedelai juga memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi manusia, karena biji kedelai mengandung kadar lemak dan protein yang tinggi. Kedelai mempunyai kandungan protein sebesar 42% dan kandungan lemaknya sekitar 18%.
Seiring dengan permintaan yang terus meningkat maka diperlukan suatu perlakuan untuk meningkatkan produksi kedelai. Salah satu perlakuan yang dapat diberikan adalah dengan inokulasi benih. Perlakuan inokulasi pada benih dapat meningkatkan perbintilan akar. Inokulasi merupakan tindakan memberikan inokulum pada benih tanaman yang akan ditanam. Tanaman kedelai akan bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. yang merupakan jenis bakteri pengikat nitrogen. Bakteri ini akan memfiksasi Nitrogen bebas yang ada di udara. Hasil simbiosis antara bintil akar dengan bakteri Rhizobium sp. adalah tanaman akan mendapatkan asam amino dan bakteri akan mendapatkan karbohidrat. Dengan adanya kemampuan untuk proses fiksasi tersebut maka jumlah pupuk Nitrogen yang diberikan pada kedelai akan lebih rendah.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Pengaruh Inokulasi dan Varietas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glysine max) yaitu :
a. Mengenal dan mengetahui pertumbuhan vegetatif kedelai.
b. Mengetahui pengaruh pemberian inokulan terhadap perbintilan akar tanaman kedelai.

3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Pengaruh Inokulasi dan Varietas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glysine max) dilaksanakan setiap hari Jumat dari bulan April sampai Juni 2009 pukul 13.00 WIB, bertempat di Laboratorium Lahan Jumantono, Karanganyar, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Kedelai merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang terkenal di dunia. Banyak jenis kedelai yang dikenal di Indonesia yaitu kedelai hitam, kedelai kuning dan kedelai hijau. Kedelai banyak diperdagangkan dalam bentuk biji kering. Kegunaanya bermacam-macam yaitu untuk bahan industri makanan dan untuk bahan industri bukan makanan (Anonim, 2009).
Kriteria benih kedelai yang baik yaitu :
1. Benih berasal dari tanaman sehat, bebas hama dan penyakit, kualitas bijinya baik dan mempunyai kemurnian tinggi sehingga dapat berkecambah cepat dan merata.
2. Dipanen tepat waktu (cukup tua), polong tidak pecah, pengolahan hasil dan pengupasan benih dilakukan dengan baik.
3. Mempunyai hasil tinggi dan berumur genjah (Anonim, 2008).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lahan penanaman kedelai adalah kedaan aerasi dan drainase, tanahnya baik, bebas dari wabah nematode, serta pH berkisar antara 5-7. Pada tanah yang masam perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu (Priyanto, 2004).
Salah satu usaha meningkatkan penambatan Nitrogen secara hayati adalah dengan inokulasi menggunakan strain Rhizobium sp. yang sesuai dan efektif. Penggunaan herbisida glifosat pada saat tertentu dan penggunaan legin diharapkan gulma terkendali dan penambatan Nitrogen meningkat (Suwarni, 2000).
Beberapa syarat bagi bakteri bintil akar yang akan digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati untuk diaplikasikan di lapangan: (1) harus memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal penambatab Nitrogen, (2) mampu bersaing dalam membentuk bintil akar dan bakteri bintil akar indigenous, (3) mempunyai daya adaptasi maupun daya hidup dalam tanah yang diinokulasi (Susilowati, 2000).
Penambahan Nitrogen anorganik sedikit lebih menguntungkan terhadap pertumbuhan dan hasil jika diberikan selama fase vegetatif daripada kalau hanya diberikan setelah pembungaan. Dosis-dosis Nitrogen anorganik permulaan yang rendah mendorong pertumbuhan walaupun tanaman berbintil baik dengan bakteri Rhizobium karena Rhizobium kurang terdapat secara luas dalam tanah-tanah tropik, sedangkan pada penggunaan strain Rhizobium yang berlainan dalam lingkungan berkendali mungkin tidak banyak mempunyai kegunaan praktis (Goldsworthy dan Fisher, 2004).
C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja
1. Alat
a. Lahan
b. Sekop
c. Alat tulis
d. Meteran
e. Tali raffia
f. Patok
g. Papan nama
h. Tugal
i. Pisau (cutter)
2. Bahan
a. Benih kacang kedelai
b. Tanah
c. Legin
3. Cara Kerja
a. I0V1 = tanpa inokulasi, varietas 1
b. I0V2 = tanpa inokulasi, varietas 2
c. I1V1 = dengan inokulasi, varietas 1
d. I1V2 = dengan inokulasi, varietas 2
Mengulang masing-masing perlakuan sebanyak dua kali.
4. Menanam benih masing-masing 2 biji per lubang tanam, dengan jarak tanam 20x25 cm, sehingga dalam satu petak tanam terdapat 180 lubang tanam.
5. Memupuk tanaman sesuai perlakuan.
6. Melakukan penyiraman setiap hari.
7. Memilih satu tanaman terbaik per lubang tanam setelah 1 minggu (penyulaman).
8. Melakukan pengamatan tingi tanaman tiap minggu. Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel yang diambil secara acak sebanyak 6 tanaman selain tanaman di bagian tepi. Pengukuran dilakukan dari permukaan tanah sampai titik tumbuh teratas pada batang utama.
9. Melakukan pengamatan saat 42 HST, meliputi :
a. Saat berbunga
b. Jumlah polong
c. Jumlah biji per polong
d. Berat 1000 biji
e. Berat kering biji per tanaman
f. Jumlah bintil akar efektif (bila dibelah warna merah/merah muda)
g. Jumah bintil akar non efektif (bila dibelah warna hijau/tidak berwarna)
h. Berat kering akar
i. Jumlah cabang


D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1.1 Tabel Rekapitulasi Tanaman Kedelai
Replik Var Inkl tingg Mncul j.cab j.pol
/tan Brt 100 efektif Non
efektf Jml biji/
polong Brt krg
bj/tan Brt krng akar Legin+
var
1 1 0 15,56 35 2.8 5.0 3.36 0 1 2 2.65 0.358 1
2 1 0 28,36 28 2.4 52.0 13.84 2 3 3 10.80 0.920 1
1 1 1 27,16 42 7.0 20.5 16.21 2 0 2 8.92 1.002 2
2 1 1 28,36 42 4.0 5.0 24.73 0 0 2 1.04 0.206 2
1 2 0 25,75 35 6.0 40.0 15.13 5 1 2 11.38 1.490 11
2 2 0 36,60 42 9.5 16.0 4.01 9 0 2 0.92 0.450 11
1 2 1 27,33 42 16.0 35.0 7.09 34 12 3 2.92 0.740 12
2 2 1 30,80 42 4.3 51.8 3.05 4 1 3 4.54 0.430 12
Sumber : Data Rekapitulasi
Tabel 1.2 Tabel Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai
MST Rata-Rata Tinggi Tanaman (cm)
1 5,98
2 9,87
3 13,92
4 17,65
5 21,15
6 23,44
7 26
8 26,57
9 27,92
Sumber: Data Rekapitulasi

Berdasarkan pengamatan tinggi tanaman kedelai, diperoleh data bahwa tanaman kedelai yang tidak di inokulasi mempunyai ukuran tinggi tanaman yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tanamn kedelai yang di inokulasi. Tanaman yang memiliki hasil terbaik adalah tanaman kedelai varietas 2 tanpa legin yaitu sebesar 36,6 cm, tetapi jika dibandingkan dengan tanaman kedelai varietas 2 dengan legin menunjukkan hasil yang tidak terlampau jauh berbeda. Berdasarkan annova diperoleh kesimpulan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berbeda nyata terhadap hasil. Hal ini disebabkan karena perbedaan varietas juga akan mempengaruhi tinggi tanaman, selain itu ketersediaan air juga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Menurut Suprapto (2003), kebanyakan tanaman kedelai yang dibudidayakan membintil dengan baik walaupun beberapa tidak membintil sama sekali. Banyaknya bintil yang terbentuk berdasarkan genotipe, lokasi, dan tipe tanah, tetapi biasanya terdapat bintil yang cukup sehingga tak perlu menambahkan N di dalam tanah.
Fiksasi nitrogen simbiotik dilakukan oleh bakteri Radicola dan Rhizobium yang bersimbiosis dengan tanaman polongan (leguminosae) dengan membentuk bintil akar. Leguminosae membentuk bahan organic yang dipakai bakteri atau dirubah menjadi nitrogen yang bisa dihisap oleh tanaman sehingga kebutuhan nitrogen terpenuhi (Soetiono, 2007). Pemberian rhizoplus pada tanaman kedelai varietas Willis dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti jumlah cabang per tanaman, jumlah polong isi per tanaman dan hasil per ha (Rahayu 2004). Dari hasil pengamatan diperoleh hasil yang berbeda yaitu jumlah cabang tidak mempengaruhi jumlah polong, tetapi pemberian inokulasi akan mempengaruhi jumlah polong. Dari hasil annova varietas versus jumlah cabang, jumlah cabang versus inokulasi, varietas versus jumlah polong, serta inokulasi versus jumlah polong/tanaman menunjukkan hasil yang tidak signifikan (tidak berbeda nyata) yang artinya bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi hasil yang diperoleh. Hal ini dikarenakan pada saat panen tanaman sampel belum terlalu masak sehingga banyak polong yang masih belum terbentuk.
Berat kering biji/ tanaman merupakan berat untuk menghitung berat 100 biji. Berat 100 biji hanya menggunakan biji yang sudah dikeringkan terlebih dahulu, agar dapat diketahui berat biji yang sesungguhnya. Pada pengamatan berat kering biji/ tanaman dan berat 100 biji diperoleh nilai tertinggi yaitu 11,38 dengn berat 15,13. Menurut annova berat 100 biji versus varietas, berat 100 biji versus inokulasi, berat kering biji/ tanaman versus varietas, serta berat kering biji/ tanaman versus inokulasi menunjukkan hasil yang tidak signifikan(tidak berbeda nyata) yang berarti bahwa perlakuan yang diberikan pada tanaman kedelai tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap hasil yang diperoleh. Hal ini dikarenakan sebagian biji ada yang tidak utuh (rusak) ketika dikupas sehingga biji akan kehilangan sebagia volunenya sehingga akan mengurangi bobot timbangan.
Bintil akar efektif adalah bintil akar yang aktif mengikat N2, ketika dibelah berwarna merah muda karena mengandung leghemoglobin, dan banyak ditemukan disekitar tudung akar dan cabang akar utama. Sedangkan bintil akar non efektif adalah bintil akar yang tidak aktif mengikat N2 dan jika dibelah berwarna hijau atau putih. Banyak ditemukan di akar samping dan memiliki ukuran yang lebih kecil daripada bintil akar efektif. Berdasarkan annova pengamatan bintil akar afektif versus varietas, jumlah bintil akar efektif versus inokulasi, jumlah bintil akar non efektif versus varietas, jumlah bintil akar versus inokulasi serta berat kering akar versusu inokulasi menunjukkan hasil yang tidak signifikan (tidak berbeda nyata). Hal ini terjadi karena didalam tanah sudah terdapat strain rhizobium sehingga pemberian legin tidak begitu mempengaruhi bintil akar. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi rhizobium antara lain pH dan suhu. Suhu tinggi akan mengurangi jumlah rhizobium karena bakteri ini peka terhadap suhu tinggi. pH tanah yang rendah (asam) juga dapat mengurangi efisiensi bakteri rhizobium, pH optimum rhizobium adalah 5,0-6,3.



E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan:
a. Tanaman kedelai merupakan tanaman yang termasuk famili leguminosae yang dapat memfiksasi nitrogen dengan cara bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk menghasilkan bintil akar.
b. Tinggi tanaman baik kontrol maupun perlakuan tidak mempunyai perbedaan yang nyata. Tanaman tertinggi kontrol adalah 28,36 cm, sedangkan pada perlakuan adalah 30,80 cm.
c. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti jenis tanah, suhu, ketersediaan air, dan kandungan hara dalam tanah.
d. Perlakuan inokulasi tidak berpengaruh nyata terhadap perbintilan akar efektif maupun non efektif.
e. Ditemukan dua jenis bintil akar yang terdapat pada tanaman kedelai, yaitu bintil akar efektif dan bintil akar non efektif.
2. Saran
a. Perlu diadakan netralisasi lahan sebelum dilakukan penanaman, agar hasilnya lebih akurat.
b. Sebaiknya praktikan menginokulasi legin sendiri, agar mengetahui cara membuat dan dapat mengaplikasikan dengan benar.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Budidaya Kedelai. http://www.worintek-bantul.go.id. Diakses pada tanggal 15 Juni 2009, pukul 15.40 WIB.

Anonim. 2009. Tanaman Kedelai. http://www.wikipedia.org. diakses pada tanggal 15 Juni 2009, pukul 15.45 WIB.

Goldsworthy, P.R dan N.M Fisher. 2004. The Physiology of Trophycal Field Crop. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Priyanto. 2004. Pengaruh Terhadap Agregasi Hasil Tanaman Kedelai (glysine max) Berdasarkan Tingkat Kadar pH Tanah di Wilayah Nusa Tenggara Barat. Jurnal Agrosains. 2 (7) : 6-9.

Susilowati. 2000. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suwarni. 2000. Pengaruh Herbisida Glifosat dan Legin Terhadap Perilaku Nodulasi Tanaman Kedelai (Glysin max). Agrosains. Jurnal Penelitian Agronomi 2(2):43-49.

II. PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Jagung (Zea mays) merupakan tanaman pangan yang menduduki posisi nomor dua di Indonesia setelah padi. Kebutuhan jagung semakin meningkat sehingga diperlukan teknik budidaya yang baik, salah satunya dengan pengaturan jarak tanam. Jarak tanam sangat penting diperhatikan karena menyangkut pemenuhan kebutuhan unsur hara tanaman.
Di Negara agraris seperti Indonesia, sangat mendukung dikembangkannya komoditi jagung, sebab tanaman jagung memiliki potensi yang cukup baik untuk dibudidayakan dan mudah diusahakan. Banyaknya makanan yang menggunakan bahan jagung mendorong kebutuhan masyarakat akan jagung semakin meningkat.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, jarak tanam yang diberikan harus sesuai, sehingga kebutuhan tanaman jagung akan unsur hara dapat terpenuhi. Pengaturan populasi tanam pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang berpengaruh pada persaingan dan penyerapan hara, air, dan cahaya matahari, sehingga apabila tidak diatur dengan baik maka pertumbuhan tanaman akan terganggu. Pengaturan jarak tanam yang terlalu rapat ataupun terlalu renggang akan berakibat buruk bagi tanaman. Jarak tanam rapat mengakibatkan terjadinya kompetisi intra spesies dan antar spesies. Beberapa penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam, maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata berpengaruh pada jumlah cabang serta luas daun.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum acara pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays) mempunyai tujuan :
a. Mengenal dan mempelajari pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman jagung.
b. Mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays) dilaksanakan setiap hari Jumat dari bulan April sampai Juni 2009 pukul 13.00 WIB di Laboratorium Lahan Jumantono, Karanganyar, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak. Tanaman jagung mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap tanah, baik jenis tanah lempung berpasir maupun tanah lempung dengan pH tanah 6 -8. Temperatur untuk pertumbuhan optimal jagung antara 24-30 °C. Tanaman jagung pasca masa pertumbuhan membutuhkan 45-60 cm air. Ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk buatan yang cukup untuk meningkatkan pertumbuhan akar, kerapatan tanaman serta untuk melindungi dari rumput liar dan serangan hama (Anonim, 2008).
Dalam hal penanaman banyak faktor yang perlu diperhatikan antara lain jarak tanaman atau kerapatan tanaman, pengolahan tanah dan saat tanam. Banyak dianjurkan tandur jajar, yaitu tanaman dengan jarak teratur dan barisab teratur. Jarak tanam mempengaruhi kerapatan populasi tanaman dengan efisiensi dalam penggunaan cahaya serta mempengaruhi kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan zat hara demikian juga akan mempengaruhi koefisien cahaya dimana pada umumnya penggunaan jarak tanaman sama lebih efisien dari pada jarak tanaman yang lain, karena titik awalnya terjadi kompetisi tertunda ( Kartasapoetra, 1998).
Lingkungan tanah merupakan sumber nutrisi dan air bagi tanaman. Sedangkan lingkungan iklim yang penting antara lain: radiasi surya, suhu dan kelembaban. Interaksi antara tanaman dengan faktor lingkungan akan memberikan gambaran terhadap perkembangan dan hasil tanaman
(Suminarti, 2000).
Tujuan dari pengolahan salah satunya adalah membantu pengendalian erosi. Sehubungan dengan tujuan tersebut, seharusnya dijelaskan bahwa pengolahan lebih bertanggung jawab pada percepatan erosi dibandingkan untuk mengurangi erosi. Bagaimanapun, garis luar pengolahan dapat membantu dalam pengendalian erosi. Proses pengolahan dasar pada kondisi sebagian besar kondisi adalah pembajakan. Semua keuntungan dari pembajakan mungkin belum dimengerti tetapi salah satu keuntungan utamanya adalah menghasilkan perusakan gulma (Pearson, 2000).
Jumlah biji yang disebar dalam satu lubang akan tergantung dari daya hidup (viabilitas) benih dan pada spesies benih yang ditanam. Untuk banyak speises, dua benih perlubang adalah ideal tetapi bagi beberapa (khususnya jagung manis dan okra) hanya satu benih harus ditanam. Ini disebabkan karena bila lebih dari satu tanaman yang berhasil tumbuh dalam satu lubang, kerebahan akan terpacu. Untuk kedua spesies ini, harus dihindari benih yang daya kecambahnya jelek, jika terpaksa harus digunakan, kerapatan jaraknya harus ditingkatkan untuk mengimbangi daya kecambahnya yang jelek (william, 1999).
Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap produksi per plot, produksi tongkol kedua per plot, dan produksi per hektar, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, luas daun, umur berbunga, dan produksi pertanaman. Interaksi jarak tanam dengan waktu penyiangan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, luas daun, umur berbunga, dan produksi pertamanan (Sulisityanto, 2006).
C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja
1. Alat
a. Lahan
b. Sekop
c. Alat tulis
d. Meteran
e. Tali rafia
f. Patok
g. Papan nama
h. Tugal
i. Pisau (cutter)
2. Bahan
a. Benih jagung
b. Pupuk urea
c. Pupuk KCL
d. Pupuk SP 36
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan lahan yang akan ditanami berukuran 3x3m.
b. Memberi pupuk pada saat sebelum tanam.
c. Menanam benih jagung 2 butir per lubang tanam, dengan jarak tanam sesuai perlakuan.
d. Melakukan penyiraman setiap hari.
e. Memilih satu tanaman terbaik setelah umur 1 minggu (menyulam).
Banyaknya kelompok dianggap sebagai ulangan. Jadi dalam praktikum acara II ini, masing-masing perlakuan terdiri dari 4 ulangan. Rancangan yang digunakan adalah RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap), sehingga penempatan di lapangan dilakukan secara kelompok dan diacak.
f. Melakukan pengamatan meliputi :
1) Tinggi tanaman, diukur setiap minggu mulai umur 1 MST sampai tanaman berbunga. Tinggi diukur dari permukaan tanah sampai ujung daun teratas (dengan menangkupkan seluruh daun).
2) Saat munculnya bunga jantan dan bunga betina.
3) Jumlah tongkol per tanaman.
4) Berat tongkol.
5) Panjang tongkol.
6) Berat biji per tanaman.
7) Berat 1000 biji.
Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel yang diambil secara acak sebanyak 15 tanaman selain tanaman di bagian tepi.
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 2.1 Tabel Rekapitulasi Tanaman Jagung
Tinggi tan Jarak tan replik diameter Bunga jantan Bunga betina
168.60 30 1 1.30 49 49
171.20 30 2 2.46 49 56
185.50 25 1 3.25 49 56
235.50 25 2 2.71 49 56
203.30 20 1 2.13 49 59
225.60 20 2 3.56 49 56
215.95 15 1 2.21 49 56
203.80 15 2 2.66 56 56
Sumber : Data Rekapitulasi
Tabel 2.2 Tabel Tinggi Rata-Rata Tanaman Jagung
MST Rata-Rata Tinggi Tanaman (cm)
1 12,48
2 23,44
3 51,17
4 77,43
5 103,88
6 113,12
7 162,16
8 186
9 210,18
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 2.1 Rata-Rata Tinggi Tanaman Jagung Tiap Minggu
Pengaturan jarak tanam pada suatu areal tanah pertanian merupakan salah satu cara yang berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Makin rapat jarak tanam menyebabkan lebih banyak tanaman yang tidak berbuah. Jarak tanam juga mempengaruhi persaingan antar tanaman juga mempengaruhi persaingan antar tamanan dalam mendapatkan air dan unsur hara, sehingga dapat mempengaruhi hasil (Anonim, 2009).
Data di atas menunjukkan bahwa tinggi rata-rata tanaman jagung pada perlakuan jarak tanam 30 cm x 50 cm yaitu 169,9 cm, pada perlakuan jarak tanam 25 cm x 60 cm yaitu 210,5 cm, pada perlakuan jarak tanam 20 cm x 75 cm sebesar 214,45 cm dan pada perlakuan jarak tanam 15 cm x 100 cm tinggi rata-rata tanaman jagung yaitu 209,875 cm. Sehingga diperoleh data tinggi tanaman rata-rata tertinggi pada perlakuan jarak tanam 20 cm x 75 cm yaitu 214,45 cm. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam yang diberikan berpengaruh terhadap tinggi tanaman jagung. Semakin rapat jarak tanam yang diberikan pada tanaman jagung maka semakin tinggi tanaman jagung, karena terjadi kompetisi dalam memperebutkan cahaya matahari, sehingga tanaman tumbuh meninggi.
Berdasarkan tabel annova saat berbunga jantan versus jarak tanam serta annova bunga betina versus jarak tanam menunjukkan hasil yang tidak signifikan (tidak berbeda nyata). Hal ini dikarenakan pemunculan bunga dipengaruhi oleh umur tanaman jagung sehingga jika umur tanaman jagung belum memasuki fase generative maka tanaman belum akan memunculkan bunga. Jadi, dapat disimpulkan bahwa munculnya bunga tidak dipengaruhi oleh jarak tanam.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa diameter tongkol jagung rata-rata pada perlakuan jarak tanam 30 cm x 50 cm yaitu 1,88 cm, pada perlakuan jarak tanam 25 cm x 60 cm sebesar 2,98 cm, pada perlakuan jarak tanam 20 cm x 75 cm yaitu 2,845 cm serta pada perlakuan jarak tanam 15 cm x 100 cm rata-rata diameter tongkol jagung yaitu 2,435 cm. Data tersebut menunjukkan bahwa diameter rata-rata tongkol jagung tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 25 cm x 60 yaitu 2, 98 cm. Semakin besar diameter jagung maka semakin besar tongkolnya serta semakin besar pula berat tongkol tanaman jagung tersebut. Annova panjang tongkol versus jarak tanam, diameter tongkol versus jarak tanam, berat tongkol versus jarak tanam menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata(tidak signifikan), hal ini berarti perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap hasil yang diperoleh.

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Perlakuan jarak tanam pada tanaman jagung tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tongkol, diameter tongkol, berat tongkol serta panjang tongkol.
b. Diameter rata-rata tongkol jagung tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 25 cm x 60 yaitu 2, 98 cm.
c. Jarak tanam berpengaruh pada tinggi tanaman dan hasil produksi tanaman.
d. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 cm x 75 cm yaitu 214,45 cm.
e. Jarak tanam tidak berpengaruh terhadap saat berbunga.

2. Saran
a. Saat praktikum hendaknya diberikan fasilitas yang memadai.
b. Sebelum melakukan praktkum, hendaknya dijelaskan terlebih dahulu jarak tanam yang paling tepat untuk tanaman jagung.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. http://warintek.bantul.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=1&sub=2&file=33. Diakses pada hari Sabtu, 12 januari 2008 pukul 15.00-14.30 WIB.

Kartasapoetra. 1998. Teknik Bididaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. Bina Aksara. Jakarta.

Pearson, L. C. 2000. Principles of Agronomy. Reinhold Publishing Corporation. USA.

Sulistiyanto, Suprapto. 2006. Pengaruh Pemberian Pupuk N dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Jagung. Agrosciential (Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Pertanian). Universitas Lambung Mangkurat. 13 (1):36.

Suminarti, N, Edy. 2000. Pengaruh Jarak Tanam dan Defoliasi Daun Terhadap Hasil Tanaman Jagung Varietas Bisma. J. Ilmiah Habitat. Vol: 11(10). Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

William, C. N. 1999. Vegetable Production In The Tropics. University Of Nigeria Nsukka. Nigeria.

III. PENGARUH PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L)

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kacang tanah (Arachis hypogaea L) merupakan tanaman palawija berumur pendek sehingga merupakan tanaman yang cepat menghasilkan. Kemasaman (pH) tanah optimal sekitar 5,8-6,3 untuk kacang tanah lebih dominan ditanam pada tanah alfiosol yang menurut analisa awal memiliki pH sekitar 5,7 karena kacang tanah lebih menghendaki tanah bertekstur lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat berpasir.
Kacang tanah merupakan hasil pertanian terbesar kedua setelah kacang kedelai (Glysine max). kacang tanah berguna untuk membantu menyuburkan tanah, karena pada akarnya terdapat bakteri Rhizobium yang dapat memperkaya kandungan Nitrogen tanah. Biji kacang tanah mengndung kadar lemak dan protein yang tinggi. Kandungan proteinnya sekitar 25-34% terdiri dari asam-asam amino esensia seperti arginin, fenilalanin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, triptofan, dan valin. Kandungan lemaknya sekitar 16-50%, 76-86% diantaranya adalah asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat dan linoleat.
Tanaman memerlukan kalium untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat, disamping itu kalium juga berperan memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Pada dasarnya kebutuhan akan unsur hara K sesungguhnya cukup tinggi dan dalam hal ini apabila kebutuhan akan K tidak tercukupi maka akan terjadi translokasi K dari bagian-bagian tanaman tua ke bagian yang muda. Ini dikarenakan unsure K bersifat mobil sehingga gejala kekurangannya akan tampak pada bagian yang sudah tua terlebih dahulu.



2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Pengaruh Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L) adalah :
a. Mengenal dan mengetahui pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman kacang tanah.
b. Mengetahui pengaruh pemberian Kalium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Pengaruh Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L) dilaksanakan setiap hari Jumat dari bulan April sampai Juni 2009 pukul 13.00 WIB di Laboratorium Lahan Jumantono, Karanganyar, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu komoditi pertanian yang mempunyai arti penting, bik ditinjau dari segi ekonomi maupun dari segi nilai nutrisinya. Biji kacang tanah mengandung 20-30% protein, 42-53% minyak, 17,10% karbohidrat, mineral-mineral, dan vitamin. Dalam bentuk kalori 100 gram biji kacang tanah menghasilkan 540 kalori (Ruslan, 2000).
Kalium merupakan salah satu unsur hara makro, jadi sangat diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak. Ketersediaan kalium untuk tanaman berhubungan dengan pH dan cara-cara yang umum, tetapi tidak secara langsung dipengaruhi oleh keberadaan CaCO3 dalam tanah-tanah berkapur. Secara umum tanah-tanah berkapur mengandung lebih banyak kalium total dan kalium yang dapat dipertukarkan , terutama disebabkan lebih sedikitnya pelapukan pada tanah-tanah berkapur. Mineral yang mengandung kalium dalam tanah terutama adalah kalium serta turunannya dan felsar kalium (Nortika dan Hidayat, 1998)..
Dari hasil penelitian ternyata pemberian pupuk kalium pada beberapa varietas kacang tanah memberikan pengaruh atau efek yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Varietas Kancil memberikan pengaruh baik pada jumlah cabang, berat isi polong. Varietas Kelinci memberikan memberikan pengaruh baik pada tinggi tanaman, sedangkan varietas Mahesa memberikan pengaruh baik pada jumlah daun, luas daun, berat brangkasan basah, berat brangkasan kering, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, dan bobot 100 biji (Satsijati, 2000).
Kalium diabsorbsi oleh tanaman dalam bentuk K+ dan dapat dieproleh dari pupuk kalium seperti KCl. Kebutuhan tanaman akan K cukup tinggi dan akan menunjukkan gejala kekurangan apabila kebutuhan tidak mencukupi (Lingga, 1994). Pada tanah yang kekurangan kalium, maka tanaman yang tumbuh di atasnya akan memperlihatkan gejala daun berubah menjadi mengerut terutama pada daun tua, tetapi tidak merata, kemudian tumbuh bercak-bercak berwarna merah, coklat, mengering lalu mati. Buah tidak tumbuh dengan sempurna, KCl mutunya jelek, hasilnya rendah dan tidak tahan disimpan (Barley, 1995).
Potasium (kalium) digunakan oleh sel-sel tanaman selama proses asimilasi energi yang dihasilkan oleh proses fotosintesis. Klorida potas dapat digunakan kalau sulfat potas tidak tersedia. Tapi dapat menjadi bahaya jika digunakan lebih dari beberapa hari secara terus-menerus, karena unsur klorin di dalam campuran merupakan ancaman potensial bagi tanaman (Nicholls, 1996). Tanaman memerlukan kalium utnuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat, disamping itu kalium juga berperan memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Kalium juga berperan sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit ( Kim,2003 ).
C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja
1. Alat
a. Lahan
b. Sekop
c. Alat tulis
d. Meteran
e. Tali rafia
f. Patok
g. Papan nama
h. Tugal
i. Pisau (cutter)
2. Bahan
a. Benih kacang tanah
b. Tanah
c. Pupuk urea
d. Pupuk KCL
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan lahan dengan ukuran 3x3 m.
b. Pemupkan pada tanaman sesuai perlakuan.
c. Menanam benih pada lahan dengan jarak tanam 20x20 cm.
d. Memupuk tanaman sesuai perlakuan,
e. Melakukan penyiraman setiap hari.
f. Memilih satu tanaman terbaik setelah umur 1 MST (menyulam).
g. Melakukan pengamatan setiap minggu, meliputi :
1) Tinggi tanaman, diukur mulai tanaman berumur 1 MST sampai awal pembungaan (vegetatif maksimal, mulai terlihat primordia bunga). Pengukuran dimulai dari permukaan tanah sampai titik tumbuh teratas batang utama.
2) Saat berbunga.
3) Jumlah cabang.
4) Jumlah polong per tanaman.
5) Jumlah biji per polong.
6) Berat polong per tanaman (basah dan kering).
7) Berat 1000 biji.
8) Berat biji kering per tanaman.
Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel yang diambil secara acak sebanyak 15 tanaman selain bagian tepi.
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 3.1. Tabel Rekapitulasi Tanaman Kacang Tanah
ppk K replikasi saat mncul jmlh cab Jml plong/tan brt plong/tan brt100biji brt krgbiji Biji polong
0
0
0
1
1
1
2
2
2
3
3
3
4
4
4 1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3 16
25
26
25
28
28
24
26
26
25
24
24
23
25
22 6.0
5.0
4.0
5.8
4.0
5.0
33.3
5.0
4.2
5.0
5.0
5.0
6.0
5.0
6.0 7.00
7.00
6.00
9.67
7.00
6.00
10.33
9.00
5.60
9.00
9.00
6.00
9.00
9.00
7.00 10.61
10.57
9.44
14.31
9.73
7.62
13.49
13.00
7.38
14.16
13.00
7.81
12.73
13.06
12.25 29.59
26.26
19.88
44.20
30.47
2.91
26.88
26.46
27.65
41.84
26.46
20.76
31.09
39.82
19.44 2.59
2.03
1.64
5.36
2.81
2.25
2.58
2.48
2.12
5.48
2.48
1.04
3.79
4.49
1.93 1.4
1.4
2.0
1.0
2.0
1.0
2.0
2.0
1.4
1.6
2.0
2.7
1.8
2.0
1.9
Sumber : Data Rekapitulasi
Tabel 3.1 Tabel Rata-Rata Tinggi Tanaman Kacang Tanah
MST Tinggi Rata-Rata Tanaman (cm)
1 3,52
2 6,71
3 9,47
4 12,83
5 17,76
6 18,69
7 22.32
8 25,37
9 28,4
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 3.1 Grafik Tinggi Rata-Rata Tanaman Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah melalui 2 fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Fase generatif ditandai dengan pembentukan bunga, sedangkan fase vegetatif yaitu fase setelah tanaman kacang tanah membentuk bunga.
Menurut Kim (2003), potasium (kalium) digunakan oleh sel-sel tanaman selama proses asimilasi energi yang dihasilkan oleh proses fotosintesis. Klorida potas dapat digunakan kalau sulfat potas tidak tersedia. Tapi dapat menjadi bahaya jika digunakan lebih dari beberapa hari secara terus-menerus, karena unsur klorin di dalam campuran merupakan ancaman potensial bagi tanama.
Berat polong per tanaman, berat 100 biji serta berat kering per biji tanaman kacang tanah berbanding lurus. Semakin berat polong per tanaman maka semakin tinggi berat 100 bijinya serta semakin tinggi pula berat kering biji tanaman kacang tanah. Berat polong per tanaman rata-rata pada perlakuan K0 (tanpa pemupukan) yaitu seberat 10,21 gram, pada perlakuan K1 (50 kg/ha pupuk Kalium) sebesar 10,55 gram, pada perlakuan K2 (75 kg/ha pupuk Kalium) yaitu 11,29 gram, pada perlakuan K3 (100 kg/ha pupuk Kalium) yaitu 11,66 gram, sedangkan pada perlakuan K4 (125 kg/ha pupuk Kalium) berat polong rata-ratanya sebesar 12,68 gram. Dari data yang telah diperoleh tersebut, diketahui bahwa berat rata-rata polong kacang tanah terbesar pada perlakuan K4 yaitu dengan pemberian pupuk Kalium sebanyak 125 kg/ha atau sebesar 112,5 gram/petak. Berat polong rata-rata terkecil diperoleh pada perlakuan K0 yaitu tanpa pemupukan. Data di atas menunjukkan bahwa pemupukan Kalium berpengaruh terhadap berat polong tanaman kacang tanah. Semakin tinggi dosis pemupukan kalium pada kacang tanah semakin berat polong yang terbentuk.
Berat kering biji rata-rata tanaman kacang tanah pada perlakuan K0 yaitu 2,09 gram, pada perlakuan K1 sebesar 3,47 gram, pada perlakuan K2 sebesar 2,39 gram, pada perlakuan K3 yaitu 3 gram, sedangkan pada perlakuan K4 berat kering biji rata-rata sebesar 3,40 gram. Dari hasil annova, diperoleh hasil bahwa pemberian pupuk Kalium tidak berpengaruh nyata terhadap berat biji tanaman kacang tanah. Hasil annova juga menunjukkan bahwa perlakuan pupuk Kalium tidak berpengaruh nyata terhadap saat munculnya bunga, jumlah cabang, jumlah polong serta jumlah biji per polong tanaman kacang tanah. Hal ini disebabkan karena pemanenan yang mungkin kurang tepat waktunya sehingga belum terlihat perbedaan berati pada tiap-tiap sampel tanaman.
Berat biji rata-rata tanaman kacang tanah pada perlakuan K0 (tanpa pemupukan) yaitu 25,01 gram, pada perlakuan K1 (50 kg/ha pupuk Kalium) seberat 25,86 gram, pada perlakuan K2 (75 kg/ha pupuk Kalium) berat biji rata-rata sebesar 26,99 gram, pada perlakuan K3 (100 kg/ha pupuk Kalium) yaitu 29,69 gram, dan pada perlakuan K4 (125 kg/ha pupuk Kalium) berat biji rata-rata sebesar 30,12 gram. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa berat biji rata-rata terbesar yaitu 30,12 gram yang diperoleh pada perlakuan K4 yaitu dengan dosis pupuk Kalium sebesar 125 kg/ha, sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemupukan Kalium berpengaruh terhadap berat biji kacang tanah. Semakin tinggi dosis pupuk Kalium semakin tinggi pula berat biji kacang tanah.

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Pemupukan Kalium berpengaruh terhadap berat polong tanaman kacang tanah.
b. Berat rata-rata polong kacang tanah terbesar pada perlakuan K4 yaitu dengan pemberian pupuk Kalium sebanyak 125 kg/ha atau sebesar 112,5 gram/petak.
c. Perlakuan pupuk Kalium tidak berpengaruh nyata terhadap saat munculnya bunga, jumlah cabang, jumlah polong serta jumlah biji per polong tanaman kacang tanah.
d. Berat biji rata-rata terbesar yaitu 30,12 gram yang diperoleh pada perlakuan K4 yaitu dengan dosis pupuk Kalium sebesar 125 kg/ha.
2. Saran
Pemupukan Kalium secara tepat perlu dilakukan sebagai upaya meningkatkan produktifitas serta hasil tanaman, karena tersedianya unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman kacang tanah.




DAFTAR PUSTAKA
Barley, K. T. 1995. The Agronomy of Annual Crops. Dai Nippon Printing Co. (H. K). Ltd. Hongkong.

Gani, Ruslan Abdul. 2003. Pengaruh Pemberian Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Hasil Kacang Tanah. http://digilib.itb.ac.id/gdl. Diakses tanggal 15 Juni 2009, pukul 15.50 WIB.

Kim, H. Tan. 2003. Dasar-Dasar Kimia Tanah. UGM Press. Yogyakarta.

Nicholls, R.C. 1996. Beginning Hydroponics Soilless Gardening. Daharu Prize.

Nortika dan Hidayat. 1998. Pengaruh Pupuk Kandang Pada Teknik Budidaya Tomat di Lahan Kering. Jurnal Hortikultura 8 (1) : 21-25.

Satsijati. 2000. Pengaruh Media Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Tanaman. Jurnal Hortikultura 1 (2) : 2-7.




IV. PENGARUH DOSIS PUPUK NITROGEN DAN VARIETAS
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI
(Oryza sativa)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman nomor satu di Indonesia, perkembangannya sekarang dapat menghasilkan 6-7 Ton/Ha pada musim penghujan, dan 4-5 ton/ha pada musim kemarau. Aspek botanis mencakup taksonomi, deskripsi (organ vegetatif dan organ generatif) dan fenologi tumbuhan.
Padi termasuk keluarga graminae yang batangnya beruas. Organ vegetatif terdiri dari akar, batang, dan daun. Organ generatif atau reproduktif terdiri dari malai bunga dan butir biji. Malai bunga sendiri terdiri dari lemma, palea, dan bunga yang tersusun oleh serbuk putik dan 6 benang sari. Butir biji adalah bakal buah yang matang, dengan penyusunnya yang berupa lemma, lemma steril, palea, rakhilla, dan ekor gabah. Butir biji padi tanpa sekap (kariopsis) disebut beras.
Fase pertumbuhan tanaman padi adaah sebagai berikut: a) periode vegetative, lamanya 60 sampai 70 hari meliputi fase benih berkecambah dan fase pembentukan anakan; b) periode reproduktif, lamanya 30 hari meliputi fase primordial bunga dan fase berbunga; c) periode pemasakan yang lamanya 25 sampai 35 hari, meliputi fae masak susu, masak tepung, masak gabah atau kuning dan masak atau lewat masak.
Oleh karena pentingnya manfaat dari tanaman padi bagi penduduk Indonesia, maka di dalam praktikum ini tanaman padi (Oryza sativa) yang termasuk golongan tanaman graminae ini kita amati Karena peranannya di dunia pertanian yaitu memnuhi dan mencukui kebutuhan pangan di Indonesia.



2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Pengaruh Dosis Pupuk Nitrogen Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa) adalah sebagai berikut :
a. Mengenal dan mengetahui morfologi dan taksonomi tanaman padi.
b. Mengenal dan mengetahui fase-fase padi.
c. Menghitung anakan tanaman padi.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Pengaruh Dosis Pupuk Nitrogen Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa) dilaksanakan setiap hari Jumat dari bulan April sampai Juni 2009 pukul 13.00 WIB di Laboratorium Lahan Jumantono, Karanganyar, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis marga yang sama, yang disebut padi liar. Padi tumbuh di sawah. Padi termasuk dalam suku poaceae atau padi-padian. Sejumlah familia ini juga menjadi cirri padi, misalnya berakar serabut, daun berbentuk lasnet, urat daun sejajar, punya pelepah daun, berbunga majemuk berupa floret, floret tersusun dalam spikelet, daun berbulir (Sutoro dan Makarim, 2007).
Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah Oryza sativa dengan dua sub spesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan padi Sinica (padi cere) serta spesies Oryza globerima Steund. Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering(gogo) dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan (Wayandaryanto, 2008).
Secara umum dapat dijelaskan bahwa dengan peningkatan penggunaan pupuk urea dipastikan bahwa disamping gabah giling yang dihasilkan bermutu baik, kadar beras pecah kurang dari 14%, rendemen beras giling tinggi yaitu mencapai 70%, juga kadar protein yang dihasilkan mencapai 9,96%. Sedangkan padi yang tidak diberi nitrogen kadar proteinnya hanya mencapai 7% (Agus, 2008).
Beberapa padi lokal yang tahan terhadap kekeringan umumnya mempunyai perakaran yang dalam dan padat, oleh karena itu perbaikan kualitas air irigasi perlu dilakukan. Pengaruh kekeringan sangat tergantung dari kemampuan tanaman dalam mengembangkan system perakarannya. Meningkatnya kepadatan dan kedalaman akar akan mengurangi resiko kekeringan jika diimbangi dengan kualitas irigasi yang baik. Padi yang ideal adalah padi yang mempunyai perakaran dengan vigor yang tinggi, padat, dan panjang (Suyana dan Heri, 2002).
Produktivitas tanaman dipengaruhi oleh sifat morfologis fisiologis tanaman. Bentuk atau morfologi tanaman padi diantaranya tercermin dari arsitektur dan varietas tanaman, sedangkan pada distribusi daun yang mengekspresikan bentuk kanopi menentukan banyaknya intersepsi cahaya yang sangat berpengaruh terhadap laju fotosintesis, jadi laju fotosisntesis setiap varietas tanaman berbeda-beda (Magnisjah dan Asep, 2004).
Dari hasil analisis dosisi nitrogen terhadap jumlah anakan menunjukkan perbedaan nyata, sedangkan cara pengolahan tanah dan interaksinya tidak berbeda nyata terhadap jumlah anakan umur 60 HST. Jumlah anakan maksimum terjadi pada umur 30 HST pada TOT, yakni sebesar 17 batang rumpun, sedangkan pada OTS terjadi pada umur 45 HST, dengan jumlah anakan 17,60 rumpun. Setelah umur tersebut jumlah anakan cenderung turun jumlahnya (De Datta, 2001).
C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja
1. Alat
a. Polybag
b. Cetok
2. Bahan
a. Bibit padi dengan beberapa varietas
b. Tanah
c. Pupuk urea
d. Pupuk KCL
e. Pupuk SP 36
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan bibit padi dengan beberapa varietas yang berbeda.
b. Menyiapkan polybag dengan ukuran 30x20 cm, kemudian diisi dengan media tanam yang terdiri atas tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1.
c. Menyiram media hingga lewat jenuh, tinggi air kira-kira 5 cm.
d. Menanam bibit padi dalam polybag (3-4 bibit).
e. Memupuk tanaman sesuai perlakuan.
f. Melakukan penyiraman setiap hari.
g. Memilih satu tanaman terbaik per lubang tanam setelah 1 minggu (penyulaman).
h. Menggambar tanaman padi fase vegetative dan generative dilengkapi dengan keterangan bagian tanaman.
i. Melakukan pengamatan meliputi :
1) Tinggi tanaman
2) Jumlah anakan
3) Saat berbunga
4) Panjang malai
5) Jumlah biji per malai
6) Berat biji per tanaman
7) Berat 1000 biji
8) Hasil biji kering per rumpun







D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 4.1 Tabel Rekapitulasi Tanaman Padi
Varietas Dosis pupuk Replik Tinggi Jumlah anakan
1 0 1 64.5 5
1 0 2 64.5 2
1 0 3 52.0 3
1 100 1 93.0 10
1 100 2 85.0 14
1 100 3 89.0 12
1 150 1 78.0 12
1 150 2 85.0 8
1 150 3 78.5 13
1 200 1 83.0 13
1 200 2 90.0 13
1 200 3 92.0 24
1 250 1 91.0 19
1 250 2 93.0 10
1 250 3 115.0 7
2 0 1 72.5 2
2 0 2 66.0 0
2 0 3 74.0 2
2 100 1 87.0 28
2 100 2 87.5 14
2 100 3 86.0 12
2 150 1 100.5 13
2 150 2 85.5 7
2 150 3 93.0 10
2 200 1 90.5 14
2 200 2 75.0 12
2 200 3 91.0 8
2 250 1 87.0 8
2 250 2 96.5 10
2 250 3 83.0 18
Sumber: Data Rekapitulasi
Tabel 4.2 Tabel Rata-Rata Tinggi Tanaman (cm)
MST Tinggi Rata-Rata Tanaman (cm)
1 16,98
2 31,48
3 47,68
4 55,41
5 63,39
6 68,1
7 70,6
8 77,07
9 79,34
Sumber: Data Rekapitulasi

Tabel 4.3 Tabel Jumlah Anakan Tanaman Padi Kelompok 4
MST Jumlah Anakan
1 0
2 0
3 0
4 0
5 1
6 1
7 0
8 0
9 0
Sumber : Data Kelompok

Gambar 4.1 Rata-Rata Tinggi Tanaman Padi


Gambar 4.2 Jumlah Anakan Tanaman Padi Kelompok 4


Padi termasuk keluarga padi-padian. Batangnya beruas-ruas yang didalamnya berongga(kosong), tingginya 1 sampai 1,5 meter. Pada tiap buku terdapat batang tumbuh daun yang berbentuk pita dan berpelepah. Pelepah itu membentuk hampir sekelilimg batang. Di dalam tanah dari tiap buku tumbuh tunas yang dapat menggadakan batang(anakan padi). Anakan padi itu dapat pula beranak, dan demikianlah terus menerus. Itulah sebabnya dari sebutir dapat tumbuh 40 sampai 50 batang. Bila telah sampai pada waktunya dari tiap-tiap batang keluar bunga. Bunga itu bunga majemuk, yang biasanya disebut orang sebagai bulir. Pada tiap bulir keluar 100 sampai 400 bunga yang produktif.
Taksonomi padi (Oryza sativa) :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Famili : Graminae
Genus : Oryza
Ruas-ruas pada tanaman padi merupakan suatu batang yang kosong dan tidak berisi. Pada kedua ujungnya ditutup oleh buku. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan lidah daun(lingua) dan daun kelopak. Pada daun keopak terdapat terdapat dua tangkai sebelah kiri dan kanan yang disebut dengan telinga daun atau guricle
Dalam pertumbuhannya tanaman padi melalui berbagai tahap, yaitu, periode vegetatif, meliputi fase perkecambahan dan pertunasan, selama 60-70 hari. Periode reproduktif, meliputi fase primordia bunga, pemanjangan ruas dan pembentukan malai dan bunga, selama 30 hari dan periode pemasakan, meliputi fase masak susu, masak tepung, masak gabah, dan lewat masak selama 25-35 hari.
Perbedaan antara fase vegetatif dan fase generatif yaitu pada fase vegetatif tidak terdapat daun bendera dan malai, tetapi pada fase generatif terdapat daun bendera dan malai. Fase peralihan antara fase vegetatif ke generatif ditandai dengan munculnya daun bendera dan malai, dan menggembungnya batang tanaman (bunting).
Padi lokal akan memberikan tanggapan yang kurang baik terhadap pemberian N yang tinggi, dimana tanaman padi menghasilkan bentuk tanaman yang tinggi akan tetapi akan mudah mengalami kerebahan. Padai lokal yang mempunyai tanggapan rendah terhadap pemupukan ini pada awal pertumbuhan akan mengabsorbsi N lebih cepat dan lebih banyak sehingga nampak pertumbuhan vegetatif lebih tinggi (Widodo, 2008).
Umur tanaman padi mempengaruhi jumlah anakan produktif. Semakin besar umur padi, maka jumlah anakan produktif juga semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh anakan yang telah digunakan untuk membentuk bunga, dan adanya persaingan antar anakan untuk mendapatkan fotosintat. Data pada pengamatan jumlah anakan menunjukkan bahwa hasil anakan terbanyak diperoleh pada padi varietas 2 dengan dosis pupuk N sebayak 100 kg/ ha dengan jumlah anakan sebanyak 28 anakan. Sedangkan untuk pengamatan tinggi tanaman padi diperoleh hasil tanaman padi tertinggi yaitu pada padi varietas 1 dengan dosis pupuk N sebesar 250 kg/ha. Dari annova dapat diketahui bahwa pemberian pupuk N memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman serta jumlah anakan padi. Selain pupuk N, perbedaan varietas tanaman padi juga mempengaruhi pembentukan jumlah anakan tanaman padi.
Menurut Indrana (1998), varietas padi yang mempunyai potensi hasil yang tinggi akan meningkat hasilnya dengan perlakuan pemupukan, karena jumlah anakan bertambah dan tanaman tidak roboh. Sedangkan varietas padi yang potensi hasilnya rendah tidak akan meningkat hasilnya dengan menambah jumlah pupuk N, karena tanaman tidak kuat menopang daunnya sehingga tanaman roboh.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Hasil anakan terbanyak diperoleh pada padi varietas 2 dengan dosis pupuk N sebayak 100 kg/ ha dengan jumlah anakan sebanyak 28 anakan.
b. Tanaman padi tertinggi yaitu pada padi varietas 1 dengan dosis pupuk N sebesar 250 kg/ha.
c. Pemberian pupuk N memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman serta jumlah anakan padi.
d. Terdapat 3 fase pertumbuhan pada padi yaitu fase vegetatif, fase reproduktif dan fase pemasakan.
2. Saran
Pemberian pupuk Nitrogen pada tanaman padi sebaiknya dilakukan secara tepat. Kekurangan unsur Nitrogen dapat mengakibatkan tanaman kekurangan unsur hara. Kelebihan unsur Nitrogen dapat berakibat rebahnya tanaman padi.

DAFTAR PUSTAKA

De Datta, S.K. 2001. Principle and Practice of Rice Production. Johnwalley and Sons. New York.

Mugnisjah, Wahyu, Q dan Asep, Setiawan. 2004. Produksi Benih. Bumi Aksara. Jakarta.

Setiyono, Agus. 2008. Pengaru Unsur Nitrogen Terhadap Kadar Protein Beras. http://www.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 18 Juni 2009, pukul 11.45 WIB.

Sutoro dan Makarim. 2007. Bentuk Tajuk Berbagai Varietas Padi dan Hubungannya dengan Potensi Produksi. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 15 (2) : 1-4.

Suyana, J dan Heri, W. 2002. Studi kualitas air dan sumbangan hara dari irigasi Sidorejo-Jawa Tengah pada Budidaya Padi Sawah. Jurnal Penelitian Ilmu Tanah dan Agroklimatologi. 1(2) : 1-6.

Wayandaryanto. 2008. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Huyada. Jakarta.

Friday, December 4, 2009

Chicken bread crispy

Resep ini merupakan hasil modifikasiku dari salah satu resep yang ada pada sebuah merk penyedap, namun pada dasarnya, semuanya beda jauh, cz dalam resep itu bahan2nya cukup mahal
Jadi aku modifikasi sendiri dengan bahan2 yang ada di rumah
Jadilah makanan ini
Kata orang2 yang pernah nyicipin sih..,
*IbuQ, orang pertama yang selalu mencicipi masakanku, setelah itu mengomentari, dan terkadang ngomel2 cz peralatannya suka ga aku beresin
Hehe, peace buu :x
Ibuku bilang enaaaak banged...luv you mom :)
*bapakQ
Yang tanpa komentar apapun tapi menghabiskan makanan yang aku buat -_-a
*kakakku si ucup
Yang selalu meragukan eksistensiku dalam hal masak memasak, tapi tetep habisin masakanku juga,
*sepupuku,
Yang kadang jadi kelinci percobaan buat masakan2ku, tapi akhirnya penasaran ma cara bikinnya

And the best part is....
Nih masakan udah pernah jadi runner up di lomba masaknya Himamia fmipa uns, ceritanya waktu itu adek kostQ yang anak kimia kebingungan buat nyari resep di lomba masak, n akhirnya aku kasih deh resep andalanQ ini, n ternyata hasilnya lumayanlah, n dia seneng banged bisa masak enak :D

Langsung aja resepnya, sebenernya semua serba kira2, sesuai feeling aja gitu....
Tapi ini aQ kasi takarannya (kira2)

Bahan
-5 lembar roti tawar, hilangkan pinggirnya
-1butir telur, ambil putihnya aja,
-1bungkus tepung bumbu serbaguna
-1 potong ayam, (bisa mateng/mentahan) cacah halus
-minyak goreng
-saos, sambal
-Air secukupnya

Cara:
#potong roti tawar menjadi bagian yang lebih kecil, beri sedikit air sampai lunak n strukturnya udah ga remah lagi
#masukkan putih telur dan daging cincang, aduk rata
#tuang tepung bumbu sedikit demi sedikit sampai agak padat
#bentuk adonan menggunakan sendok, kemudian tekan2 sampai agak pipih
#lumurkan adonan yg udah di bentuk ke tepung bumbu sisa
#goreng di minyak mendidih sampai kecoklatan
#angkat, tiriskan
#hidankan selagi hangat dengan saos dan sambal

Praktikum kebon

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, pertama aku mesti ke karanganyar buat identifikasi gulma praktikum PHT, habis dzuhur, kuliah fisben yang dengan tiba2 kuis, Oh God! I can't imagine the result of that quiz. Terakhir praktikum perkebunan, di situ aQ n temen2 nanem kakao yang uda dibibitin 2 bulan-an yang lalu
Alhamdulillah, bibit kelompokQ cukup bagus, jadi bisa dilepas di lapang.
Sesuai yang diinstruksikan dari coass, kelompokQ nanem 4pohon, huah!
Dodolnya, ga ada yang bawa cangkul, akhirnya sambil nunggu anak2 cowo ngambil cangkul, cewe2 bikin lubang pake ajir yang ada, ukurannya 40x40x20 cm, lumayan mantep lah buat olahraga, hufh!
Tp lumayanlah, sambil nunggu dapet 1lubang tanem, seneng banget deh :)

Kira2 jam 5, praktikum selesai, aku berdoa smoga tanaman kakao yang aQ tanem numbuh dgn baek, biar kelak terlihat hasilnya *walaupun entah kapan bakal berbuah...
Habis itu, sempet nongkrong2 bentar di BBC (bawah biola cantik) *tempat nongkrong favorit CANOPI'ERS selaen di hotspot area gd B.
Ngobrol2 ringan sambil bcanda, akhirnya dapet keputusan buat magang di BOgor, alhamdulillah wis, 1 masalah teratasi, n bisa bareng semua sahabatku :)

Sore tadi diakhiri dengan makan bareng di Nuno, dengan menu serba penyetnya.,hmm...yummy wis pokoke...

Dan sekarang, aQ udah berbaring manis di tempat tidurku, berdoa biar cepet bisa bo2k n besok bisa bangun pagi buat mudik ke magelang, demi keluarga di rumah...
Nite all :)

Praktikum kebon

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, pertama aku mesti ke karanganyar buat identifikasi gulma praktikum PHT, habis dzuhur, kuliah fisben yang dengan tiba2 kuis, Oh God! I can't imagine the result of that quiz. Terakhir praktikum perkebunan, di situ aQ n temen2 nanem kakao yang uda dibibitin 2 bulan-an yang lalu
Alhamdulillah, bibit kelompokQ cukup bagus, jadi bisa dilepas di lapang.
Sesuai yang diinstruksikan dari coass, kelompokQ nanem 4pohon, huah!
Dodolnya, ga ada yang bawa cangkul, akhirnya sambil nunggu anak2 cowo ngambil cangkul, cewe2 bikin lubang pake ajir yang ada, ukurannya 40x40x20 cm, lumayan mantep lah buat olahraga, hufh!
Tp lumayanlah, sambil nunggu dapet 1lubang tanem, seneng banget deh :)

Kira2 jam 5, praktikum selesai, aku berdoa smoga tanaman kakao yang aQ tanem numbuh dgn baek, biar kelak terlihat hasilnya *walaupun entah kapan bakal berbuah...
Habis itu, sempet nongkrong2 bentar di BBC (bawah biola cantik) *tempat nongkrong favorit CANOPI'ERS selaen di hotspot area gd B.
Ngobrol2 ringan sambil bcanda, akhirnya dapet keputusan buat magang di BOgor, alhamdulillah wis, 1 masalah teratasi, n bisa bareng semua sahabatku :)

Sore tadi diakhiri dengan makan bareng di Nuno, dengan menu serba penyetnya.,hmm...yummy wis pokoke...

Dan sekarang, aQ udah berbaring manis di tempat tidurku, berdoa biar cepet bisa bo2k n besok bisa bangun pagi buat mudik ke magelang, demi keluarga di rumah...
Nite all :)