Kereta api, sebagai alat transportasi massal, tak heran jika sebagian besar orang di Indonesia pernah naik kendaraan ini dan menganggapnyasebagai hal yang biasa.
Namun tidak bagiku, sejak kecil aku hanya mengenal kereta api dari lagu anak-anak yang aku jadikan judul dari blog ini, ataupun dari acara2 di televisi.
Saat kecil dulu sebenarnya aku pernah naik kereta uap di museum kereta api Ambarawa, namun di sana aku hanya mendapat feel wisata, tidak ada acara desak2an ataupun duduk di sekitar orang asing, membeli tiket, menunggu di peron, dan sampai ke stasiun tujuan.
Aku sangat ingin naik kereta api...
***
Rabu, 13 Januari 2009
Akhirnya, setelah umurku 20 tahun, aku mempunyai kesempatan naik kereta api. Hari itu aku harus pergi ke Solo untuk mengurus masalah studiku di tengah2 liburan kuliah....
Keadaan fisikku yang sangat capek setelah 3minggu PP Magelang-Solo, membuatku malas untuk naik motor sampai Solo lagi. Karena itu aku putuskan untuk naik kendaraan umum saja. Awalnya aku ingin naik bus saja, namun setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya aku putuskan untuk mencoba hal baru yang sudah menjadi impianku -walaupun bagi orang lain hal ini sangat biasa- akhirnya akupun naik kereta.
Berangkat pukul 6pagi, pukul 6.30 aku sampai di Kota Magelang tempat ibuku bekerja. Sepengetahuan ibuku, aku berangkat ke Solo naik motor, he he maafin aku ibu :) kalo tidak begini aku pasti ngga dibolehin. (Untuk memperoleh kepercayaan orang tua, aku sering sekali melakukan trik ini, hehe....meminta ijin pergi ke suatu tempat tanpa detail yang jelas, setelah sampai di tengah perjalanan baru minta restu) nakal banget ya?! Hehe...
Sekali lagi aku menghubungi temanku di Jogja tempat aku menitipkan motor dan mengantarkanku sampai stasiun. Dari sinilah pengalaman naik keretaku dimulai.
Aku tiba di Jogja pukul 8.15 wib, sementara kereta berangkat pukul 8.30, dan perjalanan dari kost temanku-Tugu membutuhkan waktu 15 menit. Aku berpacu dengan waktu. Namun saat itu pikiranku terlalu sederhana, mengibaratkan naik kereta seperti naik bus antar kota saja, jika sedikit terlambat dapat dikejar, dan tidak perlu mampir ke loket untuk membeli tiket. *pelajaran pertama, setiap sistem mempunyai aturan tersendiri.
Setelah memarkirkan motor, aku dan temanku langsung menuju loket karcis kereta Prameks (Prambanan ekspres) dan betapa kecewanya aku ternyata kereta pukul 9.30 baru saja berangkat, aku harus menunggu 1.5 jam lagi untuk dapat pergi dengan kreta berikutnya.
Mengobati kekecewaanku, temanku mengajakku pergi ke kampus UGM, untuk menemui temanku yang lainnya. 1jam di kampus kantin FIB, cukup menghilangkan kebosanan menunggu kereta.
Pukul 9.30 aku diantar kembali ke stasiun Tugu. Beberapa menit menunggu, akhirnya kereta datang juga. Setelah kebingungan mencari jalur kereta yang harus aku naiki, akhirnya aku berada di dalam Prameks. Aku sangat senang sekaligus lega.
1jam perjalanan di dalam kereta komuter itu, aku perhatikan ada yang berdiri sambil melihat ke luar jendela, tidur sambil mengenakan headset, ngemil tida henti, memencet2 hp, dan mengobrol dengan orang di sebelahnya, sedangkan aku sendiri asyik mengamati mereka, sambil menahan lapar dan kantuk serta sesekali memandang suasana di luar.
Pukul 11.00 aku sampai di stasiun Solo Balapan, otakku mulai menimbang2 untuk turun di Balapan atau Jebres. Akhirnya aku putuskan turun di stasiun Jebres. Selain karena lebih dekat dengan kampus, ada satu hal lagi yang mendorongku untuk turun di sana :)
Dengan mengikuti orang2 yang keluar dari stasiun, akhirnya aku menemukan jalan raya yang ternyata berjarak cukup jauh (sempet nyesel ga turun di Balapan yang deket jalan raya) sedikit kerepotan karena memakai sendal yang kurang nyaman, bawaan yang cukup berat, dan harus lari2 mengejar bus kota, fiuhh akhirnya sampai kost juga...
***
Kamis, 14 Januari 2009
Setelah semua urusan selesai, cukup istirahat, dan menghubungi penjemputku di Jogja, pukul 15.00 aku beranjak dari kost di daerah Ir. Sutami menuju stasiun Balapan. Dari jadwal yang aku search di internet, kereta berangkat pukul 15.45, sepertinya 45 menit cukup untuk sampai di Balapan dan tidak mengulang kembali kesalahan saat di Tugu -ketinggalan kereta-
Tepat pukul 15.40 aku sampai di stasiun Balapan, setelah mengerahkan kesabaran ekstra ke awak bus Atmo yang dgn lambanya membawaku ke stasiun Balapan.
Ketidaktahuanku lagi2 membawa kebingungan bagi diriku sendiri. Melihat waktu yang sangat mepet, aku segera menuju ke peron tanpa membeli tiket terlebih dahulu, jalan masuk yang aku ambil salah pula, beuhh..
Aku masuk di jalan yang seharusnya menjadi tempat keluar, sempat terlihat dari sudut mataku, penjaga pintu menatapku heran, ah biarkan saja.
Baru setelah sampai peron, aku teringat kalau aku belum membeli tiket, dan kembali ke loket melalui jalan masuk, saat itu aku merasa sangat bodoh tapi biarlah, pengalaman.
Tanpa berpikir panjang, kembali aku masuk ke peron, dan langsung naik kereta yang ada di depanku, setelah bertanya pada penumpang dan yakin kereta yang aku naiki adalah Prameks, aku mencari tempat duduk dan merasa sangat lega.
Keretapun berjalan, dan aku baru sadar kalau arah jalan kereta berlawanan dengan arah perjalananku, gleg. Aku semakin menjauh dari tujuanku, doenk doenk. Namun kenyataan bahwa Prameks hanya mempunyai rute Solo-Jogja membuatku lega, karena aku tidak akan terlalu jauh kesasar. Jam16.15 kereta berputar arah menuju Jogja, alhamdulillah ga jd nyasar.
Tuesday, January 19, 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)
.jpg)