Friday, September 25, 2009

Untitled part 2

Aku terdiam membeku, shock dengan kenyataan yang aku terima begitu tiba2, bagai tersengat listrik ribuan volt, aku lemas, tak kuasa menahan beban badanku sendiri, aku terduduk di kursi dengan handphone yang hampir terjatuh dari genggamanku. Kata2 perempuan itu menyanyinyanyi di telingaku.
"kita sama2 perempuan kan? Kamu pasti bisa merasakan bagaimana rasanya bila kamu ada di posisiku" rengek wanita di seberang sambil terus terisak.
Jgeeerrrr!!!!
Aku tersentak, cobaan macam apa lagi ini??

*#*#*#*

Unno Dhyaksa,, hampir setengah tahun ini, dialah yang memenuhi hari2ku, menyemaikan bunga2 di dalam hatiku, membuatku yang sempat layu menjadi berseri kembali.

Saat itu sudah lewat dini hari, namun handphoneku masih saja aktif bergetar karena menerima sms yg hampir setiap menit.
Saking seringnya aku sms an dengannya, semakin mahir pula jari jemariku menari di atas keypad.
Tema obrolan lewat tengah malam kami hari itu adalah pengalamannya berpetualang, dimana dia menceritakan pengalamannya mendaki gunung tertinggi di pulau jawa, dan menyelami lautan manado yang terkenal akan keindahannya. Ya, puncak semeru dan taman laut bunaken, itu yang dia ceritakan. Dia bercerita, tentang bagaimana dia tersesat di pegunungan itu dan diserang badai gunung yang dahsyat, sehingga dia harus melakukan berbagai cara untuk tetap bertahan hidup di puncak sana. Dia juga bercerita tentang keindahan taman bawah laut Bunaken, dimana dia bertemu hewan kesukaanku, lumba-lumba. Dan seperti sebelum2nya, aku selalu terpana akan cerita2nya. Cerita yang mengalir darinya mengendapkan kesan tersendiri dalam benakku. Aku berpikir, begitulah seharusnya pria, mampu menjelajah alam.
Belum lagi kisahnya saat bertemu ikan lumba2 di laut bunaken saat dia bersama rombongan pulang dari wisata laut dan kembali ke manado. Kepandaiannya bercerita, dengan gayanya yang selalu kocak, ditambah lagi dia menceritakan hewan yang sangat aku sukai, membuatku semakin mengaguminya.
Diam2, aku menaruh hati kepadanya, dan berharap suatu saat kelak, kami akan menjadi lebih dari sekedar teman.
Aku meyakini hal itu, karena berbagai kecocokan yang aku temui, antara aku dan unno, kecocokan yang saling melengkapi.
Saat aku sedih, Unno selalu bisa menghiburku, saat aku senang, dia ikut tertawa bersamaku, namun tak jarang pula aku bertengkar dengannya hanya karena masalah sepele, dan diantara kami tidak ada yang mau mengalah.
Misalnya saat memperdebatkan masalah buku yang aku sukai. Dia selalu mengejek novel2 yang aku baca yang kebanyakan tentang percintaan dan melankolis.
Hanya karena masalah sebuah novel, kami bisa berdebat berjamjam hingga kami merasa capek sendiri, dan sepakat menyudahi perdebatan yang tiada ujung itu.

what a wonderful life with him?!
Dan aku berharap semua ini akan berakhir bahagia.

*#*#*#*

Almira nama gadis itu, gadis yang menelponku dengan terisak-isak.
Dia menemukan nomorku memenuhi inbox kekasihnya, sehingga dia memutuskan untuk menelepon dan melabrakku. Aku hanya terbengong2 saat ada seorang perempuan yang meneleponku, dan mengaku sebagai kekasih dari pujaan hatiku, pria yang selalu membuatku bahagia, pria yang selalu aku bayangkan bisa menemani hari-hariku hingga aku tua.

Tidak percaya, shock, dan amarah langsung berkecamuk di dalam benakku saat mendengarkan pengakuannya, namun aku coba bersabar, menahan diri untuk tetap menyimak ceritanya, mendengarkan curhat dari orang yang baru beberapa menit lalu aku kenal, oh! Betapa tololnya wanita ini, hingga mau berbagi denganku, dengan orang yang mencintai kekasihnya. Beruntung dia tidak tahu hal itu.

Pada awalnya, mira memaki maki aku, dengan segala cacian dan hinaan, namun beberapa menit kemudian, setelah dia puas melampiaskan amarahnya kepadaku, dia memohon untuk tidak berhubungan dengan kekasihnya, aku hanya terdiam mematung, namun hatiku tidak mau menerima hal itu. Batinku menjerit "salahkan saja kekasihmu itu, yang mengajakku bermain2 sehingga aku terseret ke dalam permainannya".
Saat dia meminta untuk menempatkan diriku di posisinya, apakah dia pernah berpikir berada di posisiku? Namun dari sudut pandang manapun, aku tetap akan kalah, sekeras apapun aku membela diri, "mereka tidak pernah tau apa yang terjadi, kamu tidak pernah tau apa yang aku rasakan mira" aku terisak dalam diam.
Hening, hanya terdengar isakan mira di seberang, dan segala tuduhan2nya yang menyudutkanku, aku tidak mampu berkata-kata lagi.

*#*#*#*

Sejak kejadian itu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku telah meminta maaf kepada mira, walaupun aku tahu aku tidak salah. 'dia -unno- yang datang padaku, dan aku membukakan pintu menyambutnya, karena aku pikir dia menarik'.
Bukankah tidak ada yang salah dengan hal itu?
Ditambah lagi kenyataan bahwa dia baik, dan aku semakin memperlebar pintuku, semuanya mengalir secara alami.

Namun, dibalik semua itu, aku merasa kecewa, kecewa dengan segala perbuatan unno yang membuatku terbang, kemudian menjatuhkanku di dasar yang paling dalam dan curam. Kekecewaan, kekesalan, dan kadang rasa ingin membalas semua perbuatan yang pernah dia lakukan, datang silih berganti di dalam benakku, namun rasa sayangku padanya menutup segalanya, sehingga aku hanya bisa berbuat hal2 yang tidak jelas.
Begitu beratnya menerima kenyataan yang berubah sangat cepat itu, kemarin aku masih bisa tersenyum, namun sekarang aku tidak tau harus dengan cara apa lagi untuk menutup luka itu.....

My imagine, 250809

No comments:

Post a Comment